Senin, 01 Mei 2017

laporan fisiologi tumbuhan ke 2



I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan merupakan pertambahan yang tidak dapat balik dalam ukuran pada semua sistem biologi. Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan ukuran yang dapat diketahui dengan adanya pertambahan panjang, diameter, dan luas bagian tanaman. Parameter lain yaitu dengan adanya pertambahan volume, massa, berat basah dan berat kering tanaman. Pertumbuhan berlangsung karena peristiwa perubahan air,CO2, garam-garam anorganik menjadi organik. Proses pertumbuhan akan menghasilkan produk tanaman yaitu bagian tanaman yang dapat dipanen. Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan ekstenal. Faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain umur, keadaan tanaman, faktor hereditas, dan zat pengatur tumbuh. Sedangkan faktor eksternal yaitu cahaya, temperature, kelembaban, nutrisi atau garam-garam mineral dan oksigen. Pertumbuhan menghasilkan penambahan ukuran dan berat. Kurva pertumbuhan tanaman dalam interval waktu yang teratur akan berbentuk S. hal tersebut menunjukan bahwa pertumbuhan dimulai secara perlahan kemudian melewati fase penambahan besar yang cepat dan diikuti pertumbuhan rata-rata yang menurun secara gradual sampai kepada titik berhentinya pertumbuhan (Gardner, 1991).
Cahaya matahari adalah sumber energi utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia. Bagi manusia dan hewan cahaya matahari adalah penerang dunia ini. Sedangkan bagi tumbuhan khususnya yang memiliki klorofil cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis.  Fotosintesis adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan ketersediaan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan , meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain itu, kekurangan cahaya saat perkecambahan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan bewarna pucat (tidak hijau).  Semua ini terjadi dikarenakan tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh di tempat terang menyebabkan tumbuhan tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan kondisi relative pendek , daun berkembang baik lebih lebar, lebih hijau, tampak lebih segar dan batang kecambah lebih kokoh. Dengan demikian cahaya dapat menjadi faktor pembatas utama di dalam semua ekosistem. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman memiliki hubungan yang sangat erat dengan cahaya matahari (Admin, 2009).
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan materi Pengaruh Cahaya dan Kurva Pertumbuhan Tanaman yaitu untuk mengetahui pengaruh cahaya dan kurva pertumbuhan organ tanaman.



II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peran Cahaya Terhadap Proses Fisiologi Tumbuhan
Kualitas cahaya memiliki pengaruh berbeda terhadap proses-proses fisiologi tanaman. Tiap proses fisiologi  memiliki respon terhadap kualitas cahaya berbeda-beda sehingga di dalam menganalisis komposisi cahaya untuk tiap-tiap proses fisiologi tersebut sangat sukar. Matahari merupakan sumber energi terbesar di alam semesta. Energi matahari diradiasikan kesegala arah dan hanya sebagian kecil saya yang diterima oleh bumi. Energi matahari yang dipancarkan ke bumi berupa energi radiasi. Disebut radiasi dikarenakan aliran energi matahari menuju ke bumi tidak membutuhkan medium untuk mentransmisikannya. Energi matahari yang jatuh ke permukaan bumi berbentuk gelombang elektromagentik yang menjalar dengan kecepatan cahaya. Panjang gelombang radiasi matahari sangat pendek dan biasanya dinyatakan dalam micron. Bagi tumbuhan dan organisme berklorofil, cahaya matahari dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses fotosintesis. Dalam proses ini energi cahaya diperlukan untuk berlangsungnya penyatuan CO dan air untuk membentuk karbohidrat. Lebih lanjut, adanya sinar matahari merupakan sumber dari energi yang menyebabkan tanaman dapat membentuk gula. Tanpa bantuan dari sinar matahari, tanaman tidak dapat memasak makanan yang diserap oleh tanah, yang mengakibatkan tanaman menjadi lemah atau mati  Tidak semua energi cahaya matahari dapat diabsorpsi oleh tanaman. Hanya cahaya tampak saja yang dapat berpengaruh pada tanaman dalam kegiatan fotosintesisnya. Cahaya itu disebut dengan PAR (Photosynthetic Activity Radiation) dan mempunyai panjang gelombang 400 mili mikron sampai 750 mili mikronTanaman juga memberikan respon yang berbeda terhadap tingkatan pengaruh cahaya yang dibagi menjadi tiga yaitu,  intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran. Pengaruh unsur cahaya pada tanaman tertuju pada pertumbuhan vegetatif dan generatif. Tanggapan tanaman terhadap cahaya ditentukan oleh sintesis hijau daun, kegiatan stomata (respirasi, transpirasi), pembentukan anthosianin, suhu dari organ-organ permukaan, absorpsi mineral hara, permeabilitas, laju pernafasan, dan aliran protoplasma. Tiap-tiap spesies tanaman juga mempunyai tanggapan yang berbeda-beda terhadap tiap kualitas cahaya (Tjasjono, 1995).
2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Radiasi di
      Permukaan Bumi
Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya radiasi di permukaan bumi ada dua yaitu : 1) Sistem tanpa atmosfer, untuk mempermudah mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap radiasi yang sampai ke permukaan maka atmosfer dianggap tidak ada, maka yang berpengaruh adalah : a) Pada saat sisi matahari menghadap bumi lebih banyak sisi troposfer yang bersuhu 6000 K maka radiasi surya yang diterima bumi besar karena sumbernya besar, sebaliknya pada saat sisi sunspot banyak menghadap bumi (5923 K) maka radiasi yang diterima bumi rendah dan hal ini berulang setiap 11 tahun ; b) Jarak bumi-matahari, sehingga sekitar Januari, radiasi yang diterima bumi lebih banyak dari biasanya, sedangkan bulan Juli radiasi yang diterima lebih sedikit dari biasanya ; c) Sudut datang surya, pada saat sudut datang besar (pagi atau sore) radiasi lebih rendah, sebaliknya bila sudut datang kecil (tengah hari) radiasi yang diterima besar ; d) Panjang hari adalah periode matahari terbit (sun rise) hingga matahari terbenam (sun set), sehingga pada musim panas yang panjang harinya, panjang radiasi yang diterima bumi semakin besar dan sebaliknya pada saat musim dingin. 2) Sistem atmosfer, bila atmosfer diperhitungkan maka selain pada butir 1 diatas, yang berpengaruh juga pada butir-butir antara lain : a) Penyerapan (absorbtion), awan, uap air, aerosol, dan gas kering akan menyerap radiasi yang lewat sebelum sampai kemuka bumi ; b) Pemantulan (reflection) ; c) Pembauran (scattering) ; d) Dipancarkan kembali (reflection) ; e) Radiasi langsung dikenal sebagai insolasi (incoming soar radiation) (Larasati, 2012).
2.3 Defenisi dan Manfaat Naungan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) naungan adalah lindungan atau tempat berlindung, dalam artian kata tersebut naungan pada konteks pertanian dapat diartikan sebagian tempat berlindung atau suatu yang dapat melindungi tanaman dari sinar matahari yang berlebihan. Tanaman akan hidup baik jika memperoleh matahari yang cukup. Akan tetapi banyaknya sinar matahari yang dibutuhkan oleh tanaman berbeda-beda. kekurangan sinar matahari sebagian tanaman akan memberikan respon pertumbuhanyang kurang baik. Begitu pula sebaliknya ada beberapa tanaman yang tidak terlalu suka dengan pencahayaan yang terlalu banyak. Fungsi naungan adalah untuk mendapatkan cahaya yang oftimal untuk tanaman yang dinaungi sehingga tanaman tersebut tidak mengalami kematian akibat terlalu banyak mendapatkan cahaya yang terlalu banyak diserap.  Naungan umumnya dibutuhkan oleh tanaman golongan C3 atau pada tanaman pada fase pembibitan namun pada tanaman C3 naungan tidak hanya diperlukan dapa fase pembibitan saja namun diperlukan sepanjang hidup tanaman. Pada fase pembibitan intensitas cahaya yang dibutuhkan hanya sekitar 30-40 % saja. Manfaat naungan adalah untuk mengatur kebutuhan cahaya matahari. Pengaturan cahaya matahari yang sesuai dengan kebutuhannya akan membuat kehidupannya lebih baik, tumbuhan subur, warna daun hijau sehat, berbunga pada waktunya, dan juga tidak mudah terserang hama dan penyakit. Oleh karena itu pada masa pembibitan dianjurkan untuk menggunakan naungan. Selain sebagai mengontrol intensitas cahaya yang baik untuk tanamanam naungan juga berfungsi menahan laju tumbuhnya gulma yang umumnya sangat tidak suka dengan naungan (Dhika, 2014).
2.4 Kurva Sigmoid
Kurva sigmoid merupakan kurva pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase sense.
sigmoid-curve.png
Gambar Kurva Sigmoid
(Sumber : Google.com)
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal yang dihasilkan oleh banyak tumbuhan setahun dan beberapa bagian tertentu dari tumbuhan setahun maupun bertahunan, Pada fase logaritmik ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti laju kurva pertumbuhan (dV/dt) lambat pada awalnya. Tetapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan organisme, semakin besar organisme semakin cepat ia tumbuh : 1 ) Fase embryonis tidak terlihat secara nyata (tidak tergambar dalam kurve) dalam pertumbuhan tanaman, karena berlangsungnya di dalam biji ; 2 ) Fase Muda (Juveni//Vegetatif) yaitu, fase yang dimulai sejak biji mulai berkecambah, tumbuh menjadi bibit dan dicirikan oleh pembentukan daun – daun yang pertama dan berlangsung terus sampai masa berbunga dan atau berbuah yang pertama ; 3  ) Fase Menua dan Aging (Senil/Senescence), beberapa faktor luar dapat menghambat atau mempercepat terjadinya senescence, misalnya penaikan suhu, keadaan gelap, kekurangan air dapat mempercepat terjadinya senescence daun, penghapusan bunga atau buah akan menghambat senescence tanaman, pengurangan unsur-unsur hara dalam tanah, air, penaikan suhu, berakibat menekan pertumbuhan tanaman yang berarti mempercepat senescence. Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu (Srigandono, 1991).







III. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan materi Pengaruh Cahaya dan Kurva Pertumbuhan Tanaman dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 April 2016, pukul 15.00-16,40 WIB, di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2  Bahan dan Alat
Dalam praktikum Fisiologi dengan materi Pengaruh Cahaya dan Kurva Pertumbuhan Tanaman bahan yang digunakan yaitu : kacang hijau (Phaseolus radiatus), jagung (Zea mays), polibag, aquades dan tanah berpasir. Alat yang digunakan adalah penggaris
3.3 Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan pada praktikum fisiologi tumbuhan adalah sebagai berikut :
1) Menyiapkan polibag yang sudah diisi dengan tanah berpasir secukupnya. 
     Polibag yang disiapkan ada 2 sebagai media tanam.                                            
2) Menanam masing-masing 10 biji tanaman kacang hijau pada 2 media tanam
    yang sudah disiapkan. Pada tempat gelap dan terang.
3)  Membuat 2 perlakuan, meletakan media tanam A ditempat gelap sedangkan
      media tanam B di tempat terang (ada cahaya).
4) Melakukan pengamatan selama 2 minggu dan menjaga media tumbuh jangan
      sampai kekeringan.
Grafik 1. Tinggi tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus)ditempat gelap dan
                terang

Grafik 2. Luas daun kacang hijau (Phaseolus radiatus) di tempat terang dan gelap



4.2 Pembahasan
4.2.1 Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus) di Tempat
         Terang
Pada tabel 1. Dapat dilihat bahwa rata-rata tinggi tanaman pada hari ke-1 adalah 0, pada hari ke-2 adalah 0, pada hari ke-3 adalah 4,5 cm, hari ke-4 adalah 14,5 cm, pada hari ke-5 adalah 22 cm, pada hari ke-6 adalah 29,5 cm, pada hari ke-7 adalah 32,2 cm, pada hari ke-8 adalah 35,7 cm, pada hari ke-9 adalah 37,5 cm, pada hari ke-10 adalah 39,4 cm, pada hari ke-11 adalah 41,6 cm, pada hari ke-12 adalah 43,8 cm, pada hari ke-13 adalah 44,5 cm, pada hari ke-14 adalah 45,3 cm. Berdasarkan lebar daun ditempat terang dari hari pertama sampai hari ketiga adalah 0, pada hari ke-4 adalah 2 cm, pada hari ke-5 adalah 0,96 cm, pada hari ke-6 adalah 1,4 cm, pada hari ke-7 adalah 1,7 cm, pada hari ke-8 adalah 1,76 cm, pada hari ke-9 adalah 1,96 cm, pada hari ke-10 adalah 2,03 cm, pada hari ke-11 adalah 2,16 cm, pada hari ke-12 adalah 2,26 cm, pada hari ke-13 adalah 2,26 cm, pada hari ke-14 adalah 2,36 cm. Luas daun ditempat terang dari hari pertama sampai hari ketiga adalah 0, pada hari ke-4 adalah 1,53 cm,  pada hari ke-5 adalah 2,9 cm, pada hari ke-6 adalah 4,73 cm, pada hari ke-7 adalah 6,83 cm, pada hari ke-8 adalah 7,9 cm, pada hari ke-9 adalah 9,2 cm, pada hari ke-10 adalah 9,85 cm, pada hari ke-11 adalah 11,28 cm, pada hari ke-12 adalah 11,95 cm, pada hari ke-13 adalah 12,67 cm, pada hari ke-14 adalah 13,51 cm.        
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama 14 hari di tempat terang maka didapatkan hasil bahwa pertumbuhan tanaman ditempat terang pada awalnya berjalan sangat lambat hal tersebut dapat dilihat dari grafik pertumbuhan di grafik tinggi, tinggi tanaman di tempat terang sangat berjalan dengan lambat karena adanya pengaruh cahaya yang membuat hormone auksin tidak bekerja dengan baik membuat tinggi tanaman di tempat terang tidak seperti tinggi tanaman di tempat gelap. Berdasarkan dari luas daun nya pertumbuhan di tempat terang sangat cepat karena pertumbuhan difokuskan pada perluasan daun bukan ke pada pembentukan hormone auksin. Pertambahan luas daun dapat terlihat dengan jelas pada grafik kedua.
4.2.2 Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus)di Tempat Gelap
Pada tabel 2. Dapat dilihat bahwa rata-rata tinggi tanaman pada hari ke-1 adalah 0, pada hari ke-2 adalah 2, pada hari ke-3 adalah 5 cm, hari ke-4 adalah 8,67 cm, pada hari ke-5 adalah 17,13 cm, pada hari ke-6 adalah 21,33 cm, pada hari ke-7 adalah 23,5 cm, pada hari ke-8 adalah 26,35 cm, pada hari ke-9 adalah 27 cm, pada hari ke-10 adalah 28,9 cm, pada hari ke-11 adalah 26,35 cm, pada hari ke-12 adalah 30 cm, pada hari ke-13 adalah 29,5 cm, pada hari ke-14 adalah 0 cm. Berdasarkan lebar daun ditempat gelap dari hari pertama sampai hari kedua adalah 0, pada hari ke-3 adalah 0,13 pada hari ke-4 adalah 0,3 cm, pada hari ke-5 adalah 1,17 cm, pada hari ke-6 adalah 1,3 cm, pada hari ke-7 adalah 1,6 cm, pada hari ke-8 adalah 1,73 cm, pada hari ke-9 adalah 1,87 cm, pada hari ke-10 adalah 2,1 cm, pada hari ke-11 adalah 2,25 cm, pada hari ke-12 adalah 2,35 cm, pada hari ke-13 adalah 2,4 cm, pada hari ke-14 adalah 0 cm.  Luas daun ditempat gelap dari hari pertama sampai hari ketiga adalah 0, pada hari ke-4 adalah 0,20 cm, pada hari ke-5 adalah 0,58 cm, pada hari ke-6 adalah 1,01 cm, pada hari ke-7 adalah 1,51 cm, pada hari ke-8 adalah 1,63 cm, pada hari ke-9 adalah 1,78 cm, pada hari ke-10 adalah 2,16 cm, pada hari ke-11 adalah 2,54 cm, pada hari ke-12 adalah 2,88 cm, pada hari ke-13 adalah 3,03 cm, pada hari ke-14 adalah 0 cm.  
Pertumbuhan tinggi tanaman ditempat gelap berjalan dengan sangat cepat dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman di tempat terang, hal ini dikarenakan hormon auksin tidak dihambat oleh cahaya matahari membuat tanaman berusaha menjangkau cahaya matahari. Sedangkan pada luas daun nya pertumbuhan tidak maksimal karena tanaman lebih berfokus memacu hormone auksin untuk mendapatkan cahaya matahari membuat perluasan daunnya tidak seluas daun yang ada di tempat terang. Pertambahan luas daun di tempat gelap terlihat jelas pada grafik kedua.













V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan , meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain itu, kekurangan cahaya saat perkecambahan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan bewarna pucat (tidak hijau). Kurva sigmoid merupakan kurva pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase sense. Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan.
5.2 Saran
Dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu sebelum melakukan praktikum para praktikan sebaiknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya. Bimbingan dari asisten juga sangat diperlukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar