LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOLOGI TUMBUHAN
PERKECAMBAHAN DAN DORMANSI
TINSI MONIKA TARIGAN
CAA 115 057
KELOMPOK V

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perbanyakan
tanaman ada dua jenis yaitu secara vegetatif dan secara generatif. Terdapat
beberapa perbedaannya yaitu perbanyakan secara vegetatif merupakan perkembangbiakan
tanaman dengan menggunakan bagian-bagian seperti batang, cabang, ranting,
pucuk, daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama
dengan induknya tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari
tanaman induk. Sedangkan perbanyakan tanaman secara generatif adalah salah satu
perbanyakan tanaman yang paling mudah dilakukan secara massal dan biayanya
murah adalah perbanyakan melalui biji atau perbanyakan secara generatif
(seksual). Dalam perbanyakan secara generatif, biji digunakan sebagai alat
perbanyakan. Kelebihan perbanyakan tanaman secara generatif adalah tanaman baru
bisa diperoleh dengan mudah dan cepat, biaya yang dikeluarkan relatif murah,
umur tanaman lebih lama, tanaman yang dihasilkan memiliki perakaran yang lebih
kuat dan varietas-varietas baru diperoleh dengan cara menyilangkannya.
Sedangkan kelemahan perbanyakan secara generatif adalah tanaman baru yang
dihasilkan belum tentu memiliki sifat yang sama dengan tanaman induknya,
varietas baru yang muncul belum tentu lebih baik, waktu berbuah lebih lama dan
kualitas tanaman baru diketahui setelah tanaman berbuah. Perkembangbiakan generatif
(kawin) pada tumbuhan disebut juga perkembangbiakan secara kawin (seksual),
karena ditandai adanya peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina.
Peleburan dua sel gamet tersebut dinamakan pembuahan. Perbanyakan secara
generatif didahului dengan proses pembentukan gamet atau gametagenesis.
Gametagenesis dibedakan menjadi dua, yaitu : macrosporogenesis terdiri dari :
pembelahan miosis sel induk megasprora (2n) menjadi 4 buah sel anak (n), tiga
dari sel anak tersebut mengalami degenerasi/ susut sehingga tinggal hanya satu
sel anak (n) yang berkembang menjadi bakal biji (ovule). Mikrosporogenesis
terdiri dari: pembelahan miosis sel induk microsprora (2n) menjadi 4 buah sel
anak (n) dan disebut tepung sari (pollen). Inti dari masing-masing sel tepung
sari tersebut membelah satu kali menghasilkan sel berinti dua yaitu inti
generative (n) dan inti vegetatif (n). Inti generatif (n) membelah sekali lagi
sehingga menjadi 2 inti generatif masing-masing n kromosom. Peristiwa pembuahan
ini disebut pembuahan ganda (Welsh, 1991).
Perkecambahan memiliki banyak arti yang di definisikan oleh
banyak ilmuwan. Menurut Amen pada tahun (1963), perkecambahan adalah munculnya
pertumbuhan aktif yang menyebabkan pecahnya kulit biji dan munculnya semai.
Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya
tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada
kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia
berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.
Menurut Salisbury (1985) Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula
(akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala
morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses
fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan
fisiologis. Sedangkan, menurut Bagod Sudjadi (2006), perkecambahan adalah
proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan
untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah
bagian kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula
(Harun, 2012).
Dormansi adalah masa
istirahat, artinya kemampuan biji untuk menangguhkan perkecambahannya sampai
pada saat dan tempat yang mengguntungkan baginya untuk tumbuh. Hal yang
menyebabkan terjadinya dormansi yaitu adanya rudimentary embryo atau tidak sempurnanya embrio karena kondisi
bji yang kurang matang. Di dalam keadaan seperti ini,
embrio belum mencapai tahap kematangan (immature embryo) sehingga memerlukan
waktu untuk siap berkecambah. Dormansi
juga didefinisikan sebagai status dimana benih tidak berkecambah walaupun pada
kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa mekanisme dormansi
terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk dormansi primer dan
sekunder. Lamanya dormansi tergantung pada jenis tanaman dan juga tipe
dormansinya. Fungsi dormansi bagi
tanaman adalah untuk siklus pertumbuhan
tanaman dengan keadaan lingkungan. Dormansi dapat terjadi
pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap untuk
berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk
dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya (Elisa, 2009).
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan materi Perkecambahan dan
Dormansi adalah sebagai berikut :
a) Untuk mengetahui respons perkecambahan beberapa
jenis biji terhadap faktor lingkungan (air, suhu, cahaya, dst).
b) Untuk mengetahui laju perkecambahan menurut
ketebalan kulit biji
c) Untuk mengetahui batas-batas kebutuhan air
dalam perkecambahan suatu biji
d) Untuk mengetahui gejala pematahan dan dormansi
pada biji
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Defenisi Serta Struktur Biji dan Benih
Sebenarnya defenisi
benih dan biji sama, akan tetapi dalam hal yang difokuskan pada hasil panen (produksi) biji
dan benih memiliki perbedaan. Istilah biji diartikan sebagai hasil panen yang
dimanfaatkan untuk tujuan konsumsi. Sedangkan benih merupakan hasil panen yang
dimanfaatkan untuk tujuan produksi selanjutnya. Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Struktur benih ada tiga yaitu : a;)
Embrio, adalah tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan
betina pada suatu proses pembuahan. Struktur embrio ada epikotil (calon pucuk),
hipokotil (calon batang), kotiledon
(calon daun), radikula (calon akar), b;)
Jaringan penyimpan cadangan makanan, adalah cadangan makanan yang tersimpan
dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral.
Komposisi dan presentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji
bunga matahari kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji.
Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan
cadangan makanan, yaitu : kotiledon, endosperm, perisperm. c;) Pelindung biji
merupakan lapisan terluar dari biji. Pelindung biji dapat terdiri dari kulit
biji, sisa-sisa nukleus dan endosperm dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi
umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami
modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji
keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan
berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari
kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta. Namun, banyak tumbuhan dikotil, kedua jenis jaringan tersebut hidup singkat
saja dan akan diserap oleh embrio yang sedang berkembang sebelum biji memasuki
masa istirahat. Dalam hal itu, makanan disimpan dalam tubuh embrio, yakni dalam
keping bijinya (Estiti, 1995).
2.2 Proses dan Faktor yang Mempengaruhi
Perkecambahan
Proses
perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan
morfologi, fisiologi dan biokimia. Pada tanaman, tahapan dalam perkecambahannya
terdiri dari : a;) Proses penyerapan air (imbibisi), Perembesan air
kedalam benih (imbibisi), merupakan proses penyerapan air yang berguna untuk
melunakkan kulit benih dan menyebabkan pengembagan embrio dan endosperma.
Selain itu, air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen kedalam benih, b;) Aktivasi enzim terjadi setelah benih berimbibisi
dengan cukup. Enzim-enzim yang teraktivasi pada proses perkecambahan ini adalah
enzim hidrolitik seperti α-amilase yang merombak amylase menjadi glukosa,
ribonuklease yang merombak ribonukleotida, endo-β-glukanase yang merombak
senyawa glukan, fosfatase yang merombak senyawa yang mengandung P, lipase yang
merombak senyawa lipid, peptidase yang merombak senyawa protein, c;) Perombakan
cadangan makanan
terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein menjadi
bentuk-bentuk yang terlarut, d;) Translokasi makanan ke titik tumbuh setelah penguraian bahan-bahan
karbohidrat,protein,lemak menjadi bentuk-bentuk yang terlarut kemudian
ditranslokasikan ke titik tumbuh, e;) Pembelahan dan pembesaran sel, assimilasi dari
bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik menghasilkan
energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Merupakan tahap terakhir dalam
penggunaan cadangan makanan dan merupakan suatu proses pembangunan kembali, f;). Munculnya
radikula dan pertumbuhan
kecambah munculnya radikula adalah tanda
bahwa proses perkecambahan telah sempurna. Proses ini akan diikuti oleh
pemanjangan dan pembelahan sel-sel. Proses pemanjangan sel ada dua fase yakni
; fase 1 (fase lambat) dimana
pemanjangan sel tidak diikuti dengan penambahan bobot kering dan fase 2 (fase cepat), yang diikuti oleh
penambahan bobot segar dan bobot kering. Pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan,
pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh, pertumbuhan kecambah
ini tergantung pada persediaan makanan yang ada dalam biji. Kecambah mulai mantap setelah ia
dapat menyerap air dan berfotosintesis (autotrof). Semula, ada masa transisi
antara masih disuplai oleh cadangan makanan sampai mampu autotrof. Saat
autotrof dicapai proses perkecambahan telah sempurna. Benih dapat berkecambah
bila tersedia faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkecambahan. Faktor yang
mempengaruhi perkecambahan ada dua yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor
dalam adalah sebagai berikut : a;) Gen, sebagai faktor pada keturunannya dan
berfungsi untuk mengontrol reaksi kimia di dalam sel, b;) Tingkat kemasakan
benih, Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologis tercapai tidak mempunyai
viabilitas yang tinggi dikarenakan pada tingkat kemasakan benih yang belum
cukup,benih belum mempunyai cadangan makanan yang cukup untuk metabolism
perkecambahan, c;) Hormon, Hormon merupakan zat yang berperan penting dalam
metabolisme perkecambahan.hormon merupakan stimultan dalam proses metabolisme
sehingga keberadaan hormon yang mencukupi dalam biji dapat memberikan kemampuan
dinding sel untuk mengembang sehingga sifatnya menjadi elastis. Elastisitas
dinding sel memungkinkan dinding sel bersifat permeable sehingga mempermudah
imbibisi dan mempercepat perkecambahan, d;) Ukuran dan kekerasan biji, Di dalam
biji terdapat cadangan makan yang nantinya akan dirombak pada tahap metabolism
perkecambahan. semakin bear ukuran biji,diasumsikan memiliki cadangan makanan
yang lebih banyak daripada biji yang kecil,sehingga Semakin besar biji maka
metabolism perkecambahan akan berjalan dengan baik, e;) Dormansi, Dormansi
adalah suatu keadaan pertumbuhan yang tertunda atau keadaan istirahat. Setiap
benih tanaman memiliki masa dormansi yang berbeda-beda.dormansi ini mempengaruhi
dari proses perkecambahan,bila sifat dormansi benih tergolong lama,maka perkecambahan
akan semakin lambat begitu pula sebaliknya. Sedangkan faktor luar yang
mempengaruhi perkecambahan yaitu : a;) Air, Berfungsi sebagai pelunak kulit
bji, melarutkan cadangan makanan, sarana transportasi serta bersama hormon
mengatur elurgansi (pemanjangan) dan pengembangan sel.sehingga kecukupan kadar
air ketika proses perkecambahan mutlak diperlukan, b;) Temperature, merupakan
syarat penting yang kedua bagi perkecambahan benih temperatur optimum adalah
temperature yang paling menguntungkan bagi berlangsungnya
perkecambahan benih pada kisaran ini terdapat persentae perkecambahan
tertinggi. temperatur optimum bagi kebanyakan benih yaitu 80-95 oF,c;) Oksigen,
Oksigen diperlukan biji untuk prose respirasi.Proses respirasi akan meningkat
disertai pula dengan menigkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon
dioksida, air, dan energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen akan
menghambat perkecambahan benih, d;) Medium, Medium yang baik untuk
perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai
kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama
cendawan (Sutopo, 2002).
2.3 Faktor Penyebab dan Metode
Pematahan Dormansi
Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya
impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen), embrio yang belum
tumbuh secara sempurna. Hambatan mekanis terjadi pada kulit benih terhadap
pertumbuhan embrio, karena belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena
ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat zat pengatur tumbuh di dalam
embrio. Biji yang telah matang dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi
klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan
memulai proses perkecambahannya. Dormansi pada beberapa jenis buah disebabkan
oleh: 1;) struktur benih, misalnya kulit benih, braktea, gluma, perikarp dan
membran, yang mempersulit keluar masuknya air dan udara, 2;) kelainan fisiologis
pada embrio, 3;) penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang
lain-lainnya, 4;) gabungan dari faktor-faktor di atas (Justice, 1979). Metode
pematahan dormansi yang efektif adalah dapat meningkatkan validitas daya
berkecambah, dan mengatasi masalah dormansi pada saat benih diperlukan untuk
segera ditanam. Pematahan dormansi dikatakan efektif jika menghasilkan daya
berkecambah 85% atau lebih. Banyak cara yang digunakan untuk mematahkan
dormansi benih. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi
kulit biji, sedangkan scratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.
Biji-biji keras pada spesies tanaman pertanian seringkali diskarifikasi sebelum
penanaman untuk mempercepat, menyeragamkan penyerapan air, perkecambahan dan tegaknya
tanaman, selain cara diatas antara lain yaitu dengan pemanasan 50 derajat
celcius dan membasahi substrat. Skarifikasi kimiawi dengan asam sulfat (H2SO4),
asam clorida (HCl), natrium hidroksida (NaOH), aseton, serta alkohol yang juga
telah digunakan. Asam sulfat yang dipakai paling luas dan efektif adalah dalam
bentuk murni atau mentah dan terkonsentrasi dan pekat. Terdapat pengecualian
untuk biji-biji kapas, skarifikasi kimiawi tidak banyak dilakukan secara
komersial, karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya atau berisiko, biji
harus benar-benar dibersihkan dan dikeringkan setelah perlakuan itu, serta
penurunan perkecambahan dapat terjadi apabila dilakukan secara berlebihan
(Copeland, 1976).
III. BAHAN DAN METODE
3.1
Waktu dan Tempat
Kegiatan
praktikum Fisiologi dengan materi Perkecambahan dan Dormansi dilaksanakan pada
hari Sabtu, 26 Maret 2016, pukul 15.00-16,40 WIB, di Laboratorium Jurusan
Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.
3.2
Bahan dan Alat
Dalam praktikum Fisiologi dengan materi
Perkecambahan dan Dormansi Bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum yaitu
: kacang hijau (Phaseolus radiatus),
jagung (Zea mays), lamtoro (Leucaena leucocepala), kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), Asam cuka (CH3COOH),
akuades dan kapas. Sedangkan alat yang digunakan adalah ampelas dan lampu neon.
3.3 Cara Kerja
Cara kerja yang
dilakukan dalam kegiatan praktikum Fisiologi dengan
materi Perkecambahan dan Dormansi yaitu:
3.3.1 Perkecambahan
a)
Menyiapkan
tiga buah cawan petri sebagai tempat pengecambahan kacang
Hijau
dan melapisinya dengan kapas sebanyak 10 buah.
b)
Menyiapkan
tiga set perlakuan untuk benih kacang hijau. Untuk perlakuan
pertama media tidak diberi air. Untuk perlakuan kedua media di sedikit
air
atau keadaan lembab. Dan untuk perlakuan ketiga media diberi air
tergenang.
c)
Menyiapkan
masing-masing cawan petri sebanyak 10 biji kacang hijau.
d)
Menempatkan
semua cawan petri pada tempat yang sudah ditentukan.
e)
Mengamati
dan mengontrol setiap gejala yang ditunjukkan oleh setiap
kelompok biji. Pengamatan dilakukan selama seminggu.
3.3.2 Dormansi
a)
Menyiapkan
satu buah cawan petri untuk perlakuan pematahan dormansi yaitu dengan cara
skrafikasi.
b)
Melakukan
pelapisan cawan petri sebagai tempat pengecambahan kelapa
sawit
dengan kapas sebanyak 10 buah.
c) Menempatkan semua cawan petri pada tempat
yang sudah ditentukan.
d) Mengamati dan mengontrol setiap gejala yang
ditunjukkan oleh setiap
kelompok biji. Pengamatan dilakukan selama
seminggu.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan rata-rata jumlah benih kacang
hijau yang berkecambah
|
Hari ke
|
Kering
|
Lembab
|
Tergenang
|
||||||
|
U1
|
U2
|
Rata-rata
|
U1
|
U2
|
Rata-rata
|
U1
|
U2
|
Rata-rata
|
|
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
2
|
0
|
0
|
0
|
2
|
1
|
1.5
|
9
|
7
|
8
|
|
3
|
0
|
0
|
0
|
3
|
5
|
4
|
9
|
7
|
8
|
|
4
|
0
|
0
|
0
|
4
|
6
|
5
|
9
|
7
|
8
|
|
5
|
0
|
0
|
0
|
6
|
6
|
6
|
10
|
7
|
8.5
|
|
6
|
0
|
0
|
0
|
6
|
7
|
6.5
|
10
|
7
|
8.5
|
|
7
|
0
|
0
|
0
|
6
|
7
|
6.5
|
10
|
7
|
8.5
|
Tabel 2. Hasil Persentase Kehidupan Kacang Hijau
|
Hari ke
|
Kering %
|
Lembab %
|
Basah %
|
|
1
|
0
|
0
|
0
|
|
2
|
0
|
15
|
80
|
|
3
|
0
|
40
|
80
|
|
4
|
0
|
50
|
80
|
|
5
|
0
|
65
|
85
|
|
6
|
0
|
65
|
85
|
|
7
|
0
|
65
|
85
|
Grafik Persentase perkecambahan Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus)
Tabel 3. Hasil pengamatan jumlah benih sawit.
Berkecambah menggunakan metode skarifikasi dan metode perendaman bahan kimia.
|
Hari ke
|
Metode Pematahan Dormansi
|
|
|
Skrafikasi
|
Bahan
kimia
|
|
|
1
|
0
|
0
|
|
2
|
0
|
0
|
|
3
|
0
|
0
|
|
4
|
0
|
0
|
|
5
|
0
|
0
|
|
6
|
0
|
0
|
|
7
|
0
|
0
|
4.2 Pembahasan
4.2.1 Perkecambahan
Dari hasil
pengamatan tabel 1. Hasil
pengamatan rata-rata jumlah benih kacang hijau yang berkecambah terlihat bahwa cahaya merupakan salah satu faktor eksternal
yang mempengaruhi proses perkecambahan pada tumbuhan. Setiap tumbuhan membutuhkan
intensitas cahaya yang berbeda-beda. Pada penelitian ini, praktikan menggunakan
kacang hijau untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya terhadap proses
perkecambahan kacang hijau. Pada pengamatan tabel 1 yang tidak menggunakan air
atau dalam keadaan kering rata-ratanya adalah 0 dari hari pertama sampai hari
ketujuh karena tidak ada yang tumbuh. Pada petridish yang lembab hari pertama
rata-ratanya 0, pada hari ke-2 rata-ratanya 1.5, pada hari ke-3 rata-ratanya 4,
pada hari ke-3 rata-ratanya 5, pada hari ke-4 rata-ratanya 6, sedangkan pada
hari ke-6 dan 7 rata-ratanya adalah 6.5. Sedangkan pada petridish yang ke-3,
rata-rata pada hari pertama adalah 0, hari ke-2 sampai hari ke-4 adalah 8, dan
hari ke-5 sampai hari ke-7 rata-ratanya adalah 8,5. Tanaman kacang hijau yang
diletakkan di tempat yang terang tumbuh lebih pendek karena umumnya cahaya
dapat menguraikan auksin (hormon pertumbuhan). Peristiwa ini terjadi karena
pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin. Seperti yang telah dijelaskan di
atas, hormon auksin ini akan terurai dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi
tanaman tidak terlalu cepat. Dan sebaliknya, tanaman kacang hijau yang
diletakkan di tempat yang gelap akan tumbuh lebih tinggi karena terjadi
peristiwa pertumbuhan yang cepat di tempat gelap yang disebut etiolasi. Pada
keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu
pemanjangan batang. Jadi dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik untuk
perkecambahan kacang hijau adalah perlakuan lembab dan dengan pencahayaan yang
cukup.
4.2.2
Dormansi
Dari hasil pengamatan pada tabel 3. Hasil
pengamatan jumlah benih sawit. Berkecambah menggunakan metode skarifikasi dan
metode perendaman bahan kimiaberdasarkan
praktek yang telah dilaksanakan di laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya, kami telah melakukan
kegiatan praktek tersebut sesuai dengan prosedur kerja dan pengarahan dari asisten praktikum namun dari 10 biji sawit yang telah di
scrafikasi sebelum disemai dan telah diperlakukan dengan baik sesuai dengan
prosedur kerja yang telah diajarkan oleh assisten praktikum dan dengan
penyiraman yang teratur biji-biji ini tidak ada satupun yang berkecambah
sehingga daya kecambahnya adalah 0 %.
V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan
a.
Respons perkecambahan
beberapa jenis biji terhadap faktor lingkungan yaitu : 1;) Air ,Air dapat mempengaruhi sifat benih
itu sendiri terutama pada kulit pelindung dan jumlah air yang tersedia pada
media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung
kepada jenis benihnya, 2;) Suhu, Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan
berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi
dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5-35°C. Suhu juga mempengaruhi
kecepatan proses permulaan perkecambahan dan ditentukan oleh berbagai sifat
lain yaitu sifat dormansi benih, cahaya dan zat tumbuh giberelin, 3;) Cahaya,
Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya bervariasi tergantung pada
jenis tanaman. Besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada
intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran.
b.
Laju perkecambahan
berdasarkan ketebalan pelindung
biji, semakin ketebalan pelindung berkurang maka proses perkecambahannya
semakin cepat. Tetapi saat pelindung kulit tebal maka perkecambahan semakin
lambat.
c.
Batasan air yang
diperlukan oleh setiap jenis biji atau benih berbeda-beda, oleh karena itu
kebanyakan air akan menyebabkan kematian benih. Semakin tipis kulit pelindung
semakin sedikit kandungan air yang dibutuhkan dan terjadi sebaliknya pada kulit
yang tebal
d.
Untuk
mengatasi masalah dormansi diperlukan metode pematahan dormansi yang efektif
yang dapat meningkatkan validitas hasil pengujian daya berkecambah, dan
mengatasi masalah dormansi pada saat benih diperlukan untuk segera ditanam.
Pematahan dormansi dikatakan efektif jika menghasilkan daya berkecambah 85%
atau lebih.
5.2
Saran
Praktikan diharapkan lebih menjaga ketenangan dan
ketertiban pada saat praktikum agar kegiatan praktikum kedepannya lebih
kondusif. Praktikan juga diharapkan bisa memahami materi terlebih dahulu supaya
tidak mengalami kendala saat praktikum berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar