Senin, 01 Mei 2017

laporan fisiologi tumbuhan


LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOLOGI TUMBUHAN

PERKECAMBAHAN DAN DORMANSI



TINSI MONIKA TARIGAN
CAA 115 057
KELOMPOK V
















JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
2016




 
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perbanyakan tanaman ada dua jenis yaitu secara vegetatif dan secara generatif. Terdapat beberapa perbedaannya yaitu perbanyakan secara vegetatif merupakan perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya tanpa melalui perkawinan atau tidak menggunakan biji dari tanaman induk. Sedangkan perbanyakan tanaman secara generatif adalah salah satu perbanyakan tanaman yang paling mudah dilakukan secara massal dan biayanya murah adalah perbanyakan melalui biji atau perbanyakan secara generatif (seksual). Dalam perbanyakan secara generatif, biji digunakan sebagai alat perbanyakan. Kelebihan perbanyakan tanaman secara generatif adalah tanaman baru bisa diperoleh dengan mudah dan cepat, biaya yang dikeluarkan relatif murah, umur tanaman lebih lama, tanaman yang dihasilkan memiliki perakaran yang lebih kuat dan varietas-varietas baru diperoleh dengan cara menyilangkannya. Sedangkan kelemahan perbanyakan secara generatif adalah tanaman baru yang dihasilkan belum tentu memiliki sifat yang sama dengan tanaman induknya, varietas baru yang muncul belum tentu lebih baik, waktu berbuah lebih lama dan kualitas tanaman baru diketahui setelah tanaman berbuah. Perkembangbiakan generatif (kawin) pada tumbuhan disebut juga perkembangbiakan secara kawin (seksual), karena ditandai adanya peleburan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina. Peleburan dua sel gamet tersebut dinamakan pembuahan. Perbanyakan secara generatif didahului dengan proses pembentukan gamet atau gametagenesis. Gametagenesis dibedakan menjadi dua, yaitu : macrosporogenesis terdiri dari : pembelahan miosis sel induk megasprora (2n) menjadi 4 buah sel anak (n), tiga dari sel anak tersebut mengalami degenerasi/ susut sehingga tinggal hanya satu sel anak (n) yang berkembang menjadi bakal biji (ovule). Mikrosporogenesis terdiri dari: pembelahan miosis sel induk microsprora (2n) menjadi 4 buah sel anak (n) dan disebut tepung sari (pollen). Inti dari masing-masing sel tepung sari tersebut membelah satu kali menghasilkan sel berinti dua yaitu inti generative (n) dan inti vegetatif (n). Inti generatif (n) membelah sekali lagi sehingga menjadi 2 inti generatif masing-masing n kromosom. Peristiwa pembuahan ini disebut pembuahan ganda (Welsh, 1991).
Perkecambahan memiliki banyak arti yang di definisikan oleh banyak ilmuwan. Menurut Amen pada tahun (1963), perkecambahan adalah munculnya pertumbuhan aktif yang menyebabkan pecahnya kulit biji dan munculnya semai. Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Menurut Salisbury (1985) Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. Sedangkan, menurut Bagod Sudjadi (2006), perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula (Harun, 2012).
Dormansi adalah masa istirahat, artinya kemampuan biji untuk menangguhkan perkecambahannya sampai pada saat dan tempat yang mengguntungkan baginya untuk tumbuh. Hal yang menyebabkan terjadinya dormansi yaitu adanya rudimentary embryo atau tidak sempurnanya embrio karena kondisi bji yang kurang matang. Di dalam keadaan seperti ini, embrio belum mencapai tahap kematangan (immature embryo) sehingga memerlukan waktu untuk siap berkecambah. Dormansi juga didefinisikan sebagai status dimana benih tidak berkecambah walaupun pada kondisi lingkungan yang ideal untuk perkecambahan. Beberapa mekanisme dormansi terjadi pada benih baik fisik maupun fisiologi, termasuk dormansi primer dan sekunder. Lamanya dormansi tergantung pada jenis tanaman dan juga tipe dormansinya. Fungsi dormansi bagi tanaman adalah  untuk siklus pertumbuhan tanaman dengan keadaan lingkungan. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya (Elisa, 2009).
1.2 Tujuan
       Tujuan praktikum Fisiologi Tumbuhan dengan materi Perkecambahan dan Dormansi adalah sebagai berikut :
a)      Untuk mengetahui respons perkecambahan beberapa jenis biji terhadap faktor lingkungan (air, suhu, cahaya, dst).
b)      Untuk mengetahui laju perkecambahan menurut ketebalan kulit biji
c)      Untuk mengetahui batas-batas kebutuhan air dalam perkecambahan suatu biji
d)     Untuk mengetahui gejala pematahan dan dormansi pada biji










II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Serta Struktur Biji dan Benih
Sebenarnya defenisi benih dan biji sama, akan tetapi dalam hal yang difokuskan pada hasil panen (produksi) biji dan benih memiliki perbedaan. Istilah biji diartikan sebagai hasil panen yang dimanfaatkan untuk tujuan konsumsi. Sedangkan benih merupakan hasil panen yang dimanfaatkan untuk tujuan produksi selanjutnya. Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Struktur benih ada tiga yaitu : a;) Embrio, adalah tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Struktur embrio ada epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang),  kotiledon (calon daun),  radikula (calon akar), b;) Jaringan penyimpan cadangan makanan, adalah cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan presentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji bunga matahari kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji. Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu : kotiledon, endosperm, perisperm. c;) Pelindung biji merupakan lapisan terluar dari biji. Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nukleus dan endosperm dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta. Namun, banyak tumbuhan dikotil, kedua jenis jaringan tersebut hidup singkat saja dan akan diserap oleh embrio yang sedang berkembang sebelum biji memasuki masa istirahat. Dalam hal itu, makanan disimpan dalam tubuh embrio, yakni dalam keping bijinya (Estiti, 1995). 

2.2 Proses dan Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan
Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Pada tanaman, tahapan dalam perkecambahannya terdiri dari : a;) Proses penyerapan air (imbibisi), Perembesan air kedalam benih (imbibisi), merupakan proses penyerapan air yang berguna untuk melunakkan kulit benih dan menyebabkan pengembagan embrio dan endosperma. Selain itu, air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen kedalam benih, b;) Aktivasi enzim terjadi setelah benih berimbibisi dengan cukup. Enzim-enzim yang teraktivasi pada proses perkecambahan ini adalah enzim hidrolitik seperti α-amilase yang merombak amylase menjadi glukosa, ribonuklease yang merombak ribonukleotida, endo-β-glukanase yang merombak senyawa glukan, fosfatase yang merombak senyawa yang mengandung P, lipase yang merombak senyawa lipid, peptidase yang merombak senyawa protein, c;) Perombakan cadangan makanan terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein menjadi bentuk-bentuk yang terlarut, d;) Translokasi makanan ke titik tumbuh setelah  penguraian bahan-bahan karbohidrat,protein,lemak menjadi bentuk-bentuk yang terlarut kemudian ditranslokasikan ke titik tumbuh, e;) Pembelahan dan pembesaran sel, assimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Merupakan tahap terakhir dalam penggunaan cadangan makanan dan merupakan suatu proses pembangunan kembali, f;). Munculnya radikula dan pertumbuhan kecambah munculnya radikula adalah tanda bahwa proses perkecambahan telah sempurna. Proses ini akan diikuti oleh pemanjangan dan pembelahan sel-sel. Proses pemanjangan sel ada dua fase yakni ; fase 1 (fase lambat) dimana pemanjangan sel tidak diikuti dengan penambahan bobot kering dan fase 2 (fase cepat), yang diikuti oleh penambahan bobot segar dan bobot kering. Pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh, pertumbuhan kecambah ini tergantung pada persediaan makanan yang ada dalam biji. Kecambah mulai mantap setelah ia dapat menyerap air dan berfotosintesis (autotrof). Semula, ada masa transisi antara masih disuplai oleh cadangan makanan sampai mampu autotrof. Saat autotrof dicapai proses perkecambahan telah sempurna. Benih dapat berkecambah bila tersedia faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkecambahan. Faktor yang mempengaruhi perkecambahan ada dua yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam adalah sebagai berikut : a;) Gen, sebagai faktor pada keturunannya dan berfungsi untuk mengontrol reaksi kimia di dalam sel, b;) Tingkat kemasakan benih, Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologis tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi dikarenakan pada tingkat kemasakan benih yang belum cukup,benih belum mempunyai cadangan makanan yang cukup untuk metabolism perkecambahan, c;) Hormon, Hormon merupakan zat yang berperan penting dalam metabolisme perkecambahan.hormon merupakan stimultan dalam proses metabolisme sehingga keberadaan hormon yang mencukupi dalam biji dapat memberikan kemampuan dinding sel untuk mengembang sehingga sifatnya menjadi elastis. Elastisitas dinding sel memungkinkan dinding sel bersifat permeable sehingga mempermudah imbibisi dan mempercepat perkecambahan, d;) Ukuran dan kekerasan biji, Di dalam biji terdapat cadangan makan yang nantinya akan dirombak pada tahap metabolism perkecambahan. semakin bear ukuran biji,diasumsikan memiliki cadangan makanan yang lebih banyak daripada biji yang kecil,sehingga Semakin besar biji maka metabolism perkecambahan akan berjalan dengan baik, e;) Dormansi, Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan yang tertunda atau keadaan istirahat. Setiap benih tanaman memiliki masa dormansi yang berbeda-beda.dormansi ini mempengaruhi dari proses perkecambahan,bila sifat dormansi benih tergolong lama,maka perkecambahan akan semakin lambat begitu pula sebaliknya. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan yaitu : a;) Air, Berfungsi sebagai pelunak kulit bji, melarutkan cadangan makanan, sarana transportasi serta bersama hormon mengatur elurgansi (pemanjangan) dan pengembangan sel.sehingga kecukupan kadar air ketika proses perkecambahan mutlak diperlukan, b;) Temperature, merupakan syarat penting yang kedua bagi perkecambahan benih temperatur optimum adalah temperature yang paling menguntungkan bagi berlangsungnya perkecambahan benih pada kisaran ini terdapat persentae perkecambahan tertinggi. temperatur optimum bagi kebanyakan benih yaitu 80-95 oF,c;) Oksigen, Oksigen diperlukan biji untuk prose respirasi.Proses respirasi akan meningkat disertai pula dengan menigkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida, air, dan energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen akan menghambat perkecambahan benih, d;) Medium, Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan (Sutopo, 2002).

2.3 Faktor Penyebab dan Metode Pematahan Dormansi
Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen), embrio yang belum tumbuh secara sempurna. Hambatan mekanis terjadi pada kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, karena belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat zat pengatur tumbuh di dalam embrio. Biji yang telah matang dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Dormansi pada beberapa jenis buah disebabkan oleh: 1;) struktur benih, misalnya kulit benih, braktea, gluma, perikarp dan membran, yang mempersulit keluar masuknya air dan udara, 2;) kelainan fisiologis pada embrio, 3;) penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lain-lainnya, 4;) gabungan dari faktor-faktor di atas (Justice, 1979). Metode pematahan dormansi yang efektif adalah dapat meningkatkan validitas daya berkecambah, dan mengatasi masalah dormansi pada saat benih diperlukan untuk segera ditanam. Pematahan dormansi dikatakan efektif jika menghasilkan daya berkecambah 85% atau lebih. Banyak cara yang digunakan untuk mematahkan dormansi benih. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan scratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo. Biji-biji keras pada spesies tanaman pertanian seringkali diskarifikasi sebelum penanaman untuk mempercepat, menyeragamkan penyerapan air, perkecambahan dan tegaknya tanaman, selain cara diatas antara lain yaitu dengan pemanasan 50 derajat celcius dan membasahi substrat. Skarifikasi kimiawi dengan asam sulfat (H2SO4), asam clorida (HCl), natrium hidroksida (NaOH), aseton, serta alkohol yang juga telah digunakan. Asam sulfat yang dipakai paling luas dan efektif adalah dalam bentuk murni atau mentah dan terkonsentrasi dan pekat. Terdapat pengecualian untuk biji-biji kapas, skarifikasi kimiawi tidak banyak dilakukan secara komersial, karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya atau berisiko, biji harus benar-benar dibersihkan dan dikeringkan setelah perlakuan itu, serta penurunan perkecambahan dapat terjadi apabila dilakukan secara berlebihan (Copeland, 1976).


           










III. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum Fisiologi dengan materi Perkecambahan dan Dormansi dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 Maret 2016, pukul 15.00-16,40 WIB, di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.

3.2  Bahan dan Alat
Dalam praktikum Fisiologi dengan materi Perkecambahan dan Dormansi Bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum yaitu : kacang hijau (Phaseolus radiatus), jagung (Zea mays), lamtoro (Leucaena leucocepala), kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), Asam cuka (CH3COOH), akuades dan kapas. Sedangkan alat yang digunakan adalah ampelas dan lampu neon.

3.3 Cara Kerja
Cara kerja yang dilakukan dalam kegiatan praktikum Fisiologi dengan materi Perkecambahan dan Dormansi yaitu:
3.3.1 Perkecambahan
a)      Menyiapkan tiga buah cawan petri sebagai tempat pengecambahan kacang
            Hijau dan melapisinya dengan kapas sebanyak 10 buah.
b)      Menyiapkan tiga set perlakuan untuk benih kacang hijau. Untuk perlakuan
             pertama media tidak diberi air. Untuk perlakuan kedua media di  sedikit
            air atau keadaan lembab. Dan untuk perlakuan ketiga media diberi air
            tergenang.
c)      Menyiapkan masing-masing cawan petri sebanyak 10 biji kacang hijau.
d)     Menempatkan semua cawan petri pada tempat yang sudah ditentukan.
e)      Mengamati dan mengontrol setiap gejala yang ditunjukkan oleh setiap
            kelompok biji. Pengamatan dilakukan selama seminggu.

3.3.2 Dormansi
a)      Menyiapkan satu buah cawan petri untuk perlakuan pematahan dormansi yaitu dengan cara skrafikasi.
b)      Melakukan pelapisan cawan petri sebagai tempat pengecambahan kelapa
            sawit dengan kapas sebanyak 10 buah.
      c)   Menempatkan semua cawan petri pada tempat yang sudah ditentukan.
      d)   Mengamati dan mengontrol setiap gejala yang ditunjukkan oleh setiap
            kelompok biji. Pengamatan dilakukan selama seminggu.














IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan rata-rata jumlah benih kacang hijau yang berkecambah
Hari ke
Kering
Lembab
Tergenang
U1
U2
Rata-rata
U1
U2
Rata-rata
U1
U2
Rata-rata
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
2
1
1.5
9
7
8
3
0
0
0
3
5
4
9
7
8
4
0
0
0
4
6
5
9
7
8
5
0
0
0
6
6
6
10
7
8.5
6
0
0
0
6
7
6.5
10
7
8.5
7
0
0
0
6
7
6.5
10
7
8.5

Tabel 2. Hasil Persentase Kehidupan Kacang Hijau
Hari ke
Kering %
Lembab %
Basah %
1
0
0
0
2
0
15
80
3
0
40
80
4
0
50
80
5
0
65
85
6
0
65
85
7
0
65
85





Grafik Persentase perkecambahan Kacang Hijau (Phaseolus radiatus)

Tabel 3. Hasil pengamatan jumlah benih sawit. Berkecambah menggunakan metode skarifikasi dan metode perendaman bahan kimia.
Hari ke
Metode Pematahan Dormansi
Skrafikasi
Bahan kimia
1
0
0
2
0
0
3
0
0
4
0
0
5
0
0
6
0
0
7
0
0

4.2 Pembahasan
4.2.1 Perkecambahan
Dari hasil pengamatan tabel 1. Hasil pengamatan rata-rata jumlah benih kacang hijau yang berkecambah terlihat bahwa cahaya merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi proses perkecambahan pada tumbuhan. Setiap tumbuhan membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda-beda. Pada penelitian ini, praktikan menggunakan kacang hijau untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya terhadap proses perkecambahan kacang hijau. Pada pengamatan tabel 1 yang tidak menggunakan air atau dalam keadaan kering rata-ratanya adalah 0 dari hari pertama sampai hari ketujuh karena tidak ada yang tumbuh. Pada petridish yang lembab hari pertama rata-ratanya 0, pada hari ke-2 rata-ratanya 1.5, pada hari ke-3 rata-ratanya 4, pada hari ke-3 rata-ratanya 5, pada hari ke-4 rata-ratanya 6, sedangkan pada hari ke-6 dan 7 rata-ratanya adalah 6.5. Sedangkan pada petridish yang ke-3, rata-rata pada hari pertama adalah 0, hari ke-2 sampai hari ke-4 adalah 8, dan hari ke-5 sampai hari ke-7 rata-ratanya adalah 8,5. Tanaman kacang hijau yang diletakkan di tempat yang terang tumbuh lebih pendek karena umumnya cahaya dapat menguraikan auksin (hormon pertumbuhan). Peristiwa ini terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hormon auksin ini akan terurai dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak terlalu cepat. Dan sebaliknya, tanaman kacang hijau yang diletakkan di tempat yang gelap akan tumbuh lebih tinggi karena terjadi peristiwa pertumbuhan yang cepat di tempat gelap yang disebut etiolasi. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang. Jadi dapat disimpulkan bahwa perlakuan terbaik untuk perkecambahan kacang hijau adalah perlakuan lembab dan dengan pencahayaan yang cukup.


4.2.2 Dormansi
Dari hasil pengamatan pada tabel 3. Hasil pengamatan jumlah benih sawit. Berkecambah menggunakan metode skarifikasi dan metode perendaman bahan kimiaberdasarkan praktek yang telah dilaksanakan di laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Palangka Raya, kami telah melakukan kegiatan praktek tersebut sesuai dengan prosedur kerja dan pengarahan dari asisten praktikum namun dari 10 biji sawit yang telah di scrafikasi sebelum disemai dan telah diperlakukan dengan baik sesuai dengan prosedur kerja yang telah diajarkan oleh assisten praktikum dan dengan penyiraman yang teratur biji-biji ini tidak ada satupun yang berkecambah sehingga daya kecambahnya adalah 0 %.














V. PENUTUP
5.1  Kesimpulan
a.        Respons perkecambahan beberapa jenis biji terhadap faktor lingkungan yaitu : 1;) Air ,Air dapat mempengaruhi sifat benih itu sendiri terutama pada kulit pelindung dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, 2;) Suhu, Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26.5-35°C. Suhu juga mempengaruhi kecepatan proses permulaan perkecambahan dan ditentukan oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi benih, cahaya dan zat tumbuh giberelin, 3;) Cahaya, Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya bervariasi tergantung pada jenis tanaman. Besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran.
b.       Laju perkecambahan berdasarkan ketebalan pelindung biji, semakin ketebalan pelindung berkurang maka proses perkecambahannya semakin cepat. Tetapi saat pelindung kulit tebal maka perkecambahan semakin lambat.
c.        Batasan air yang diperlukan oleh setiap jenis biji atau benih berbeda-beda, oleh karena itu kebanyakan air akan menyebabkan kematian benih. Semakin tipis kulit pelindung semakin sedikit kandungan air yang dibutuhkan dan terjadi sebaliknya pada kulit yang tebal
d.      Untuk mengatasi masalah dormansi diperlukan metode pematahan dormansi yang efektif yang dapat meningkatkan validitas hasil pengujian daya berkecambah, dan mengatasi masalah dormansi pada saat benih diperlukan untuk segera ditanam. Pematahan dormansi dikatakan efektif jika menghasilkan daya berkecambah 85% atau lebih.

5.2 Saran
Praktikan diharapkan lebih menjaga ketenangan dan ketertiban pada saat praktikum agar kegiatan praktikum kedepannya lebih kondusif. Praktikan juga diharapkan bisa memahami materi terlebih dahulu supaya tidak mengalami kendala saat praktikum berlangsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar